Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Historiografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2015

Historiografi Al-Jabarti

Pendahuluan
Di era modern, sekitar awal abad ke-19, negri muslim mulai menampakkan tanda-tanda akan maju kembali dalam hal ilmu pengetahuan, setelah sekian lama mengalami kemunduran. dan  juga perkembangan sejarah islam pun mengalami kemunduran. Mesir dalam hal ini yang mulai menampakan kemajuan itu, dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan muslim seiring dengan bangkitnya gerakan intelektual di negri tersebut. Seperti dalam bidang sejarah,  abdurrahman Al-Jabarti dapat dikatakan sebagai perintis kembali dan pelopor kebangkitan intelektual muslim pada masa itu. Al-jabarti patut dibahas karena telah berperan besar bagi  tumbuhnya kembali semangat keilmuan umat islam di abad modern ini. Dan juga Karena kebanyakan orang, lebih suka merujuk karya dari para sejarawan zaman klasik dan pertengahan, dari pada zaman modern, karna diangap kurang otentik.
Dari hal tersebut, maka dalam tulisan ini akan dibahas mengenai Al-Jabarti. Mulai dari riwayat hidupnya sampai ia banyak menciptakan banyak karya, juga menyebutkan karya-karya yang telah Ia tulis semasa hidupnya, dan memaparkan metode yang digunakannya  dalam menulis karya sejarah yang disebut sebagai pelopor kebangkitan penulisan sejarah islam di zaman modern tersebut.
Riwayat
Al-Jabarti bernama lengkap Abdurrahman bin Hasan al-Jabarti. Dia di lahirkan di Kairo, Mesir. Nama al-Jabarti dinisbatkan kepada Jarbart, yaitu sebuah karang kecil di negri Habsyah (ethiopia), nagri asal nenek moyangnya.[1]  Ia merupakan sejarawan mesir yang terkenal yang hidup di periode politik mesir. Yaitu zaman pemerintahan turki usmani di mesir yang berakhir pada tahun 1798,  zaman pendudukan perancis (1798-1801), dan zaman pemerintahan ali pasya yang  dimulai pada tahun 1805.[2]
Keluarga al-Jabarti sebagai sebagai keluarga ulama yang mengajari pusat komunitas (riwaq) warga jabarat di Kairo. Yang paling terkenal di antara mereka ialah ayah al-Jabarti yaitu Hasan Al-Jabarti sebagai ahli ilmu keagamaan islam dan ilmu pasti terutama astronomi.  Selain mengajar ilmu falak di universitas Al-Azhar, rumahnya menjadi tempat pertemuan para ulama dan tokoh-tokoh agama dari berbagai tempat. Disamping itu, dia juga memiliki hubungan erat dengan para pejabat dinasti Mamluk-utsmani yang berkuasa di Mesir pada saat itu. Dalam lingkungan inilah, jabarti kecil tumbuh dewasa. Ternyata Ia mengikuti jejak sebagian besar keluarganya yang mengabdikan diri di dunia ilmu pengetahuan, terutama sejarah.[3] Hal ini yang membuat al-jabarti juga sangat mencintai ilmu pengetahuan hingga dia menjadi ilmuwan besar sepanjang kepenulisan sejarah islam.
Al-Jabarti menempuh pendidikan formal pertamanya di Madrasah as-Sananiyah di Kairo. Disamping menuntut ilmu di madrasah ini, dalam waktu yang sama, sepulang sekolah, ia juga belajar berbagai ilmu keagamaan dari ayahnya dan dari ulama-ulama yang datang ke rumahnya. Setelah itu, al-Jabarti melanjutkan pendidikanya di al-Azhar sambil terus belajar ilmu Astronomi, matematika dan hikmah dari ayahnya. Demikian pendidikan yang dilaluinya sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 1179 H, ketika ia masih berusia 21 tahun. Dalam lapangan ilmu al-Jabarti sebenarnya melanjutkan tradisi ilmiah yang telah dikembangkan oleh anggota keluarganya terdahulu. Sebagaimana ayahnya, Ia juga menjadi seorang ulama besar di al-azhar kairo. Disamping itu, Dia juga memberi pengajian di masjid-masjid dan dirumahnya.[4] Ketika usia senjanya al-Jabarti mennghabiskannya untuk mendekatkan diri kepada Allah sampai meniggal pada tahun 1237 H/1822 M dalam perjalanan dari kediamannya menuju Kairo.
Karya-karyanya
karya al-Jabarti dalam bidang sejarah, Ia menulis dua buku penting yaitu aja’ib al-atsar fi al-tarajum wa al-akhbar berjumlah 4 jilid, yang lebih dikenal dengan tarikh al-jabarti, dan buku yang berjudul mazhar at-taqdis.[5] Tarikh al-jabarti dimulai dengan mukadimah, dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa dari pada tahun 1099 H, dan berakhir dengan peristiwa pada tahun 1236 H. Dalam kitab ini banyak memuat tema kelompok sosial, seperti pedagang, profesi lain, dan kalangan ahlu dzimmah, tapi fokus kajiannya adalah sejarah dan biografi kalangan ulama dan penguasa dinasti Mamluk.[6] Karya ini juga berisi catatan berbagai persitiwa dan data-data kematian. Jilid I buku tersebut ditutup dengan catatan kematian Muhamad bek abi Dzahab.
Adapun karyanya yang berjudul madzhar at-Taqdis, merupakan sebuah catatan terinci mengenai proses pendudukan prancis atas mesir. Buku ini di terbitkan kembali dalam bahasa arab dalam bentuk ringkasan pada tahun 1960-an. Tanpa suntingan, dan dibagikan ke sekolah-sekolah yang berada dibawah koordinasi deperteman pendidikan dan pegajaran mesir. Bentuk utuh buku ini dalam bahasa arab tidak pernah terbit lagi, tetapi terjemahan oleh Cardin terbit di Paris pada 1838 dalam bahasa turki dan bahasa prancis.[7]
Kelebihan karya al-Jabarti dibandingkan dengan para sejarawan Mesir lainnya karna Ia memberikan potret utuh masyarakat Mesir ketika itu dan mengungkapkan berbagai peristiwa dan tema-tema. Uraian itu tak bertujuan untuk melayani tokoh tertentu atau mengikuti selera penguasa. Iapun tidak pertah menjilat pemerintahan, mengkritik, atau memujinya atas dasar sentimen pribadi atau tujuan yang bersifat materi.[8] Hal mencirikan bahwa al-Jabarti merupakan sejarawan yang objektif, tanpa terpengaruh oleh sentimen kepentingan manapun.
Metode sejarah
Dalam kitabnya yang berjudul aja’ib al-atsar fi al-Tarjum wa al-akhbar, al-Jabarti menuliskannya dengan motode riwayat dari generasi sebelumnya dan mengandalkan peninggalan-peninggalan tertulis. Informasi dari tahun 1099 sampai 1170 H yang terdapat dalam kitabnya didapatkannya dari generasi yang lebih tua, di samping dari dokumen-dokumen resmi, prasasti, nisan kubur, dan peninggalan tertulis lainnya.[9] Sedangkan dari  Tahun 1171 H dan seterusnya, menurut al-jabarti sendiri, bersumber dari ingatannya sendiri, karena peristiwa pada masa itu dialaminya sendiri. Banyak peristiwa yang dialaminya sediri terjadi ketika Ia sebenarnya masih sangat muda. Peristiwa yang bersumber dari ingatnnya ini bisa dibagi menjadi dua. Yaitu: pertama peristiwa tahun 1171-1190 H ditulisnya dengan dengan tulisan yang tingkat-singkat. Kedua peristiwa setelah tahun 1190 H, ditulisnya dengan terinci dan panjang lebar, menulis semua peristiwa didalamnya, mirip  seperti laporang jurnalistik dalam surat kabar.
Kelebian al-Jabarti yang lain dibanding sejarawan muslim lainnya dalam menuliskan karya sejarahnya, adalah ketika menuliskan sejarah Mesir pada masa Turki Utsmani. Hal ini dikarenakan, pertama Ia menggambarkan masyarakat Mesir pada masa itu dengan sempurna serta berusaha melakukan penelitian mendalam terhadap peristiwa yang ditulisnya; kedua Ia menyatakan dalam bukunya bahwa Ia menulis sejarah bukan atas perintah sang penguasa karna Ia adalah seorang ilmuwan yang independen. Tidak ada tanda Ia berusaha menjilat dengan memuji-muji para peguasa agar memperoleh keuntungan, baik moral maupun materil, dalam hal ini Ia bersikap netral, bahkan Ia kritis terhadap penguasa.[10] Membuktikan bahwa dia merupakan sejarawan yang sangat objektif.
Dalam menulis karyanya, al-Jabarti masih mempertahankan corak penulisan sejarah islam yang dikembangkan para sejarawan muslim seribu tahun sebelumya, yaitu dengan menggunakan metode hauliyat atau periodesasi berdasarkan waktu. Didalamnya Ia menulis peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap tahunnya. Selain itu, dia sudah menulis dengan pendekatan tematik, namun penulisan tema-tema itu tak lebih dari sebuah bentuk Khabar, karna antara tema satu dan tema yang lain tidak saling terkait, baik dalam hubungan tematis maupun hubungan kausalitas. Bahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa akhir, dikumpulkannya pada tema bulan, tidak lagi pada tema tahun.[11] Hal ini membuktikan betapa rincinya penulisan sejarah di masa akhir-akhirnya.
Penutup
Dari uraian singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa al-Jabarti merupakan sejarawan muslim yang dianggap menjadi pelopor kebangkitan ilmu sejarah di zaman modern, sejak kecil Ia sudah menempuh pendidikan Islam baik formal maupun dari keluarganya yang juga seorang ulama pada masa itu. Hal itu yang membuat Ia sangat cinta terhadap Ilmu pengetahuan. Dan dari kepalanya, muncul karya yang luar biasa yang patut dijadikan acuan dalam manulis buku-buku sejarah penerusnya. Dan al-Jabarti pada masa tuanya Ia habiskan untuk beribadah kepada Allah dan tatap terus berkarya mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan.
Metode yang dipakai al-jabarti dalam menulis sejarah yaitu: pertama dalam mencari informasi sejarah yang akan ditulisnya, Ia mangandalkan riwayat dari ulama pada generasi sebelumnya, disamping itu juga Ia mengingat sendiri kejadian yang dijadikan sumberpenulisan sejaranya, karna Ia mengalami sendiri kejadiannya; kedua menuliskan sejarah mesir secara menyeluruh, dan terinci dan menurutnya, Ia merupakan sejarawan yang independen, tanpa intervensi dari manapun; ketiga dalam menulis sejarahnya, Ia mempertahankan metode para pendahulunya, yaitu Hauliyat, atau pembabakan berdasarkan waktu.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yusril Abdul ghani, Historiografi islam, dari klasik hingga modern. (Jakarta: Rajawali press  2004).

Amin, Husein Ahmad. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja rosdakarya, 2001)

Yatim, Badri. perkembangan Historiografi islam, (Jakarta:  lembaga penelitian UIN syarif hidayatullah, 2009).







[1] Badri Yatim, perkembangan Historiografi islam, lembaga penelitian UIN syarif hidayatullah Jakarta: 2009. Hlm. 169
[2] Loc. Cit,.
[3] Yusril Abdul ghani Abdullah, Historiografi islam, dari klasik hingga modern. Rajawali presss, Jakarta :2004. Hlm, 57.
[4] Badri yatim, hlm. 170
[5] Ibid, hlm. 169
[6] Yusril Abdul ghani Abdullah, hlm. 57
[7] Badri yatim, hlm. 171
[8] Yusril Abdul ghani Abdullah, hlm. 58
[9] Badri yatim, hlm 170 
[10] Loc, cit,.
[11] Ibid, hlm 171

Historiografi At-Thabari

Pendahuluan
ilmuwan muslim sangat berpenengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan, jika tidak ada mereka maka peradaban yang awalnya dari yunani tidak bisa diteruskan serta hilang dan tidak akan sampai pada kita sekarang. Dalam hal ini adalah At-thabari salah satu ilmuwan muslim yang banyak berkontribusibagi berkembangnya ilmu pengetahuan dalam islam, kebanyakan orang mengenal At-Thobari sebagai ahli Tafsir, hal ini dikarenakan at-Thabari seorang penulis kita tafsir. Padahal at-Thabari juga adalah seorang sejarawan yang telah menciptakan karya sejarah yang sangat monumentaldan juga berkontribusi besar dalam perkembangan kepenulisan sejarah Islam.
Maka dari latar belakang tersebut, dalam tulisan ini, akan membahas tentang at-thabari sebagai sejarawan. Mulai dari riwayat hidupnya sampai Ia jadi ilmuwan besar, karya-karya yang telah dikarangnya, dan metode yang dipakainya untuk menulis karya-karya sejarahnya yang sangat berpengaruh tersebut.
Riwayat
Athabari mempunyai nama lengkap abu ja’far muhammad ibn Jarir At-Thabari. Lahir di Amul Thabaristhan yang terletak di pantai selatan laut thabaristan (laut Qazwain), pada tahun 225 H/ 839 M. Dan meninggal pada tahun 310 H/923 M.[1] Ia memperoleh gelar Abu Ja’far sebagai tanda penghormatan atas kepribadianyya tang sesuai dengan tradisi orang-orang yang menngelari para pemuka dan para pemimpin mereka. Sedangkan ja’far merupakan sebutan bagi sungai yang besar dan luas.
At-Thabari hidup pada masa Islam berada dalam kemajuan dan kesuksesan dalam bidang pemikiran. Hal inilah yang membuatnya mencintai ilmu pengetahuan semenjak kecil. Dan keluarganya juga termasuk keluarga yang menanamkan peran penting ilmu pengetahuan kepadanya terutama pengetahuan keagamaan. Berkat motivasi dari keluarga terutama ayahnya, serta berbekal kecerdasan yang tinggi, At-Thabari muda sudah hafal Al-qur’an dan menjadi imam sholat, serta menulis hadits pada saat umurnya belum genap sembilan tahun.
Dalam menuntut ilmu pengetahuan mengadakan perjalanan keberbagai daerah islam. Kota pertama yang ditujunya adalah Ray, Iran, dan sekitarnya. Disana Ia mempelajari hadits dari Ibn Humaid Al-Razi. Didaerah ini pula Ia berkesempatan belajar sejarah dari Muhammad Ibn Ahmad Ibn Hammad Al-Daulabi. Dan belajar fiqih dari Abi Muqathil. Selanjutnya Ia menuju ke baghdad untuk belajar kepada Ahmad Bin Hanbal, akan tetapi ketika sampai ke baghdad, Ahmad bin Hanbal sudah wafat. (w. 855 M), kemudian dia melanjutkan perjalanan ke basrah,  kemudian ke kuffah, di Kota ini Ia belajar Qira’at dari sulaiman Al-Tulhi dan hadis dari kelompok jamaah yang diperoleh dai ibrahim abu kuraib muhammad ibn al-A’la al-Hamdani, salah seorang ulama besar hadits.
At-thabari mendirikan madzhab fiqih ketika di baghdad dan pada saat itu pengukutnya para pengikutnya mnyebut dengan madzhab Jaririyah. Sebelumnya Ia bermadzhab syafi’i. Perbedaannya dengan madzhab syafi’i dalam bidag teoritis lebih sedikit daripada dalam bidang praktis. Oleh kerena itu setelah dia wafat, para pengikutnya lupa dengan madzhabnya dan kembali ke madzhab syafi’i. Dan karyanya dalam bidang fikih diantaranya adalah ikhtilaf al-fiqaha dan adab al qudhat.[2] Hal ini membuktikan bahwa at-Thabari mendalami ilmu-ilmu lain selain sejarah hingga wafatnya pada tahun 310 H/ 923 M.
Karya-karya
At-thabari merupakan Ilmuwan muslim bukan hanya dalam bidang sejarah, namun juga dalam bidang tafsir dan ilmu-ilmu lainnya seperti hadis, fiqih, tauhid, ushul fiqih, dan ilmu-ilmu sastra, gramatika, ilu pasti dan ilmu kedokteran.[3] Tidak seluruh karya At-Thabari bisa kita temukan. Meskipun banyak sekali karyanya mengenai berbagai ilmu pengetahuan. Salah satu karyanya  yang paling populer dalam bidang tafsir adalah jami’ Al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an atau lebih dikenal sebagai Tafsir At-Thabari.[4] Tafsir ini sering digunakan oleh para pemikir atau ilmuwan muslim lainnya seperti al-baghawi, As-Suyuthi, dan juga ibn Katsir.
Sedangkan Karya At-Thabari dalam bidang sejarah adalah  Tharikh Al-Umam wa Al-Muluk, (sejarah bangsa-bangsa dan raja-raja) tarikh rasul wa Al-anbiya’ wa al-muluk al-khulafa’ sejarah para rasul, para Nabi, para raja dan para khalifah).[5]  Sebanyak 13 jilid. Menurut publikasi Leiden, Karya ini diawali dengan pengantar, uraian sejarah penciptaan manusia, dan raja-raja zaman kuno. Lalu uraian sejarah bangsa sasan, sirah Nabi, era Khulafa rasydin, sejarah dinasti ummayah, dan sejarah dinasti Abbasiyah.
Tharikh At-thaari ini dinilai sebagai pionir mengenai sejarah umum. Dengan karya ini At-Thabari melengkapi tradisi yang dirintis oleh para pendahulunya yang menulis peristiwa-peristiwa, negara-negara, dan Thabaqat, seperti Ibn Sa’ad, Al-Ya’qubi, Ad-Dinawari, Al-waqidi, Al-baladzuri, dan Ibn Ishaq. Seandainya karya-karya para pendahulu At-Thabari tersebut tidak ditemukan lagi saat ini, maka karya At-Thabari initelah memuat seluruh catatan mereka dan bisa dianggap sebagai pengantar sebagai sumber primer bagi sejarawan berikutnya. Hal ini karna karya At-Thabari ini berisi pembahasan sejarah yang sangat komperhensif sampai zaman awal penciptaan manusia samapi zaman Abbasiyah pada 915 M.
Metode sejarah
Berkenaan dengan metode yang dipakai at-thabari dalam menulis sejarah, yang membedakannya dengan sejarawan-sejarawan sebelumdan sesudahnya, antara lain. setiap informasi yang disajikannya dalam kitab sejarah, selalu disandarkan pada perowi. Dalam hal ini Ia berpendapat bahwa sejarawan tidak otentik apabila hanya bersandar pada logika dan qiyas.[6] Karena hal ini, maka dalam kitabnya banyak ditemukan informasi yang berbeda-beda dalam peristiwa yang sama. Karena setiap perowi tidak tidak selalu sama menyampaikan redaksinya dan tentunya dengan informasi yang tidak sama pula.
Tidak hannya menyebutka perowinya dalam penulisan kita sejarahnya, Ia juga menyebutkan sanadnya dari tangan pertama seperti dilakukan para ahli hadis dalam meriwayatka hadis-hadis Rasulullah Saw. Dan apabila informasi dikutip dari buku maka At-Tabari akan menyebutkan nama pengarang buku itu. Tapi jarang sekali Ia menulis nama buku yang dikutipnya.
Dalam kitabnya, At-Tabari menyajikan kronologi sejarah berdasarkan tahun. Atau yang disebut sebagai metode hauliat.[7] Metode ini sudah dipakai oleh sejarawan muslim sebelumnya seperti ai-haitsam ibn Adi, za’far ibn Muhammad ibn al-Azhar, amar ibn Washimah al-Mishri, dan al-Waqidi. Dalam kitabnya, at-Thabari juga tidak semua menuliskannya berdasarkan tahun, karna itu diluar kemampuannya. Dalam bagian ini dimulainya dengan penciptaan adam, kemudian Nabi-nabi dan peristiwa yang terjadi pada masa masing-masing, kemudian raja-raja yang semasa nabi itu, kemudian peristiwa yang terjadi pada masa mereka, kemudian dia menyebut tentang umat yang tumbuh pada masa setelah para Nabi itu, sampai Islam datang.[8]
Meskipun memakai metode hauliat atau membabakkan sejarah berdasarkan waktu tertentu, tetapi dalam kitabnya juga berisi informasi yang tidak ada hubungannya dengan waktu tertentu, ditulis secara tematik, misalnya setelah membicarakan peristiwa-peristiwa pada masa khalifah tertentu, dan setelah itu dia mambicarakan sifat-sifat, akhlak, dan keistimewaan-keistimewaa khalifah yang bersangkutan. Contohnya setelah memicarakan peritiwa-peristiwa yang terjadi pada masa khalifah Harun Ar-rasyid, At-Tabari menyajikan riwayat hidup khalifah Harun Al-Rasyid secara ringkas.[9] Selain itu, at-Thabari dalam kitabnya Ia selalu menyajikan teks-teks sastra, seperti syair, khithabah (pidato), surat-surat, perbincangan-perbincangan dalam dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.
Penutup
Dari pembahasan singkat tentang At-Thabari diatas, dapat disimpulkan bahwa: pertama, at-Thabari merupakan seorang Ilmuwan muslim yang dengan karya-karyanya sangat berpengaruh  bagi perkembangan keilmuan dalam islam. Seseorang tokoh yang sangat mencintai ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari hasil kerja keras dan berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya demi ilmu pengatahuan yang mau dicapainya, seperti ilmu tafsir, sejarah, bahasa, gramatika, ilmu pasti, kedokteran. Maka dari itu muncul karya-karyanya seperti tafsir, dan  yang monumental dibidang sejarah yamh berpengaruh bagi perkembangan historiografi Islam.
Kedua, metode yang digunakan At-Thabari dalam menulis sejarah, yang kita dapat simpulkan dari tulisan ini yaitu: selalu bersandar pada riwayat dan memperhatian sanadnya, sistematika penulisannya bersifat kronologi atau berdasarkan tahun (hauliyat), menyapaika informasi umum, dan menyajikan juga teks-teks sastra.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Yusril Abdul ghani, Historiografi islam, dari klasik hingga modern. (Jakarta: Rajawali press  2004).

Amin, Husein Ahmad. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, (Bandung: Remaja rosdakarya, 2001)

Yatim, Badri. perkembangan Historiografi islam, (Jakarta:  lembaga penelitian UIN syarif hidayatullah, 2009).







[1] Badri Yatim, perkembangan Historiografi islam, lembaga penelitian UIN syarif hidayatullah Jakarta: 2009, Hlm.87
[2] Ibid, hlm. 88
[3] Loc, cit,.
[4] Yusril Abdul ghani Abdullah, Historiografi islam, dari klasik hingga modern. Rajawali presss, Jakarta :2004. Hlm.  105
[5] Badri yatim, hlm. 89
[6] Ibid, hlm.91
[7] Yusril Abdul ghani Abdullah, Hlm.105
[8] badri yatim, hlm.93
[9] Ibid, hlm. 94

Senin, 12 Januari 2015

Tema-Tema Karya Sejarah Islam Pada Periode Klasik Dan Pertengahan

Dalam historiografi awal isam seperti aliran Yaman, Aliran Irak dan aliran madinah, tema-tema sudah mulai beragam. Semua tema yang terkandung dalam tiga aliran tersebut, direkam dalam karya-karya sejarah yang datang kemudian. Seperti Tarikh al-rasul wa al Muluk karya at-thabari. Biasanya karya seperti ini disebut karya sejarah umum. Dan dalam karya sejarah umum ini, para sejarawan pada waktu itu ada yang memakai pendekatan kronologi (hasb alhauliyat(atau pendekatan tematik (hasb ai-maudu’at).
Ketika umat islam mengalami kemajuan pesat dalam penulisan sejarah, tidak ada bangsa lain pada waktu itu yang bisa menulis sejarah seperti kaum muslimin. Para sejarawan muslim telah banyak menulis ribuan buku dengan berbagai tema didalmnya. Maka dengan banyaknya karya tersebut, agak sulit untuk mengklasifikasikan buku-buku sejarah tersebut berdasarkan tema yang terkandung dalam setiap buku. Nemun meskipun demikian, sejarawan muslimpada periode pertengahan, sudah mulai mengklasifikasikan karya-karya sejarah pada teme-tema tertentu. Seperti karya al-Dzahabi yaitu al-i’lan al-taubikh li man dzamm al-tarikh. Tema-tema  tema-tema yang terkandung dalam kitab terbebut  secara garis besar meliputi:
1.    Sirah (biografi) Nabi Muhammad saw.
2.    Qishash al-anbiya’ (kisah para Nabi)
3.    Sejarah para sahabat
4.    Sejarah khalifah
5.    Sejarah para raja dan dinasti: persia, byzantum, raja tar-tar, bani saljuk,  dll.
6.    Sejarah para menteri (wazir)
7.    Sejarah para amir (panglima), pejabat tinggi, gubernur dan sekretaris.
8.    Sejarah para faqih dan ulama madzhab.
9.    Sejarah para ahli qiraat tujuh.
10.  Sejarah para huffadz
11.  Sejarah para ulama dan ahli hadits terkemuka.
12.  Sejarah para sejarawan.
13.  Serah para ahli gramatika bahasa, penyair, ahli kamus, dan sastrawan.
14.  Sejarah para ahli ibada, para wali, tokoh sufi dan orang-orang sholeh.
15.  Sejarah para hakim, jakasa, orang kepercayaan dan gubernur provinsi.
16.  Sejarah para guru, penulis buku dan pembaca hikayat.
17.  Sejarah para penghutbah, muballigh, para seniman dan ahli musik.
18.  Sejarah para syarif, bangsawan para pemikira dan orang-orang bijak.
19.  Sejarah para dokter, filosof, geometri dan insinyur.
20.  Sejarah para teolog.
21.  Sejarah sekte-sekte dalam syi’ah.
22.  Sejarah golongan-golongak khawarij, anti ali dan para pembuat ibadah.
23.  Sejarah ulama, ahli fiqih, sufi dari kalangan al-sunah.
24.  Sejarah orang bakhil, orang tamak dan sebagainya.
25.  Sejarah-orang-orang cacat.
26.  Sejarah para ahli astrologi, tukang sihir, dukuk, ahli kimia, dan lain-lain.
27.  Sejarah para ahli nasab (genealogy), akhbari dan orang-orang baduy.
28.  Sejarah orang-orang berani, penunggang kuda dan sebagainya.
29.  Sejarah para pedagang, perjalanan-perjalanan yang menkjubkan, para pelaut pengembara.
30.  Sejarah para tukang dan para pekerja yang menakjubkan, peneliti yang ahli dan penemu berbagai macam objek.
31.  Sejarah para biarawan dan ahli mistik.
32.  Sejarah para imim, muazin, ahli tabir mimpi dan orang-orang awam.
33.  Sejarah para prampok, pemaincatur dan penjudi.
34.  Sejarah para penari ulung, pemain cinta, peminum arak, para banci, pembohong dan sebagainya.
35.  Sejarah orang-orang licik, penipu dan sebagainya.
36.  Sejarah orang-orang kaya.
37.  Sejarah ahli mantra, pengacau, perusuh dan sebagainya.
38.  Sejarah para pengemis.
39.  Sejarah orang yang meninggal karna alqur’an.
40.  Sejarah ahli nujum, dukun keramat dan orang-rang fasik.
Klasifikasi menurut al-Dzahabi tersebut, dalam pandangan al-skahawi terlalu rumit. Oleh karena itu Ia ingin menyempurnakan karya al-Dzahabi tersebut. Klasifikasi al-sakhawi sebagai berikut:
1.      Karya sejarah tentang Nabi Muhammad Saw.
2.      Karya tentang para sahabat
3.      Karya sejarah tentang para syarif
4.      Karya sejarah tentang orang-orang quraisy dan keluarga-keluarga lainnya.
5.      Karya sejarah tentang al-Mawali (orang-orang persia muslim)
6.      Karya sejarah tentang para perawi terpercaya dan penulis kitab-kitab hadits.
7.      Karya sejarah yang memuat biografi para tokoh ilmu hadits
8.      Karya sejarah yang berupa ensiklopedi para ahli dan perawi hadits.
9.      Karya sejarah yang memuat biografi tokoh-tokoh yang mempunyai nama tertentu.
10.    Karya sejarah yang memuat biografi orang-orang yang berusia panjang dan berusia muda.
11.    Sejarah yang memuat biografi, baik seorang maupun beberapa orang.
12.    Biografi tokoh-tokoh tertentu.
13.    Karya sejarah lokal.
14.    Karya-karya tulis yang memberikan informasi tentang negri-negri tertentu.
15.    Karya-karya sejarah yang tidak terikat (muthlaq at-tarikh). Dalam bentuk ini as-sakhawi membaginya menjadi empat:
a.  Karya sejaranh yang memuat peristiwa-peristiwa seperti gempa bumi, bencana alam dan pemberontakan.
b.  Karya sejarah yang memuat peristiwa-peristiwa dan menambahnya dengan orang-orang yang wafat.
c.  Karya-karya sejarah yang berupa kumpulan biografi
d.  Karya sejarah yang memuat tagal-tanggal wafat para tokoh.
e.  Karya sejarah yang mengandung informasi yang bermacam-macam, seperti laporan pengembaraan dan lain-lain.
Meskipun sudah disederhanakan, klasiifikasi yang dibuat oleh sakhawi itu dirasa masih sangat besar. Maka dalam hal ini abd al-aziz salim dan muhammad ahmad tarhini mengklasifikasikan karya sejarah islam dimasa klasik dan pertengahan menjadi tiga, yaitu sejarah dinasti, thabaqat dan nasab. Tetapi karna tabaqat tidak idintik dengan biografi, melinkan kumpulan biografi, yang berarti tidak termasuk biografi nabi, maka thabaqat diganti dengan biografi, menjadi sejarah dinasti, biografi dan Nasab.
a. Sejarah Dinasti
Sejarah dinasti sudah dapat dilihat pada awal perkembangan historiografi dalam islam. Seperti yang sudah disebutkan terdapat tiga aliran kepenulisan sejarah pada awal islam. Dan jika ketiganya bertemu maka menjadi warna baru bagi corak penulisan sejarah islam. Seperti muhamad ishaq ibn yashar yang menulis tarikh al khulafa (sejarah para khalifah) tentang hubungan khulafa’ rasyidin dengan khalifah-khalifah bani umayyah. Meskipun merangkum banyak tema, sejarah dinasti banyak ditulis oleh sejarawan-sejarawan besar muslim. Tetapi Dalam penulisan sejarah dinasti pra-islam, para sejarawan muslim menemukan kesulitan, karna belum menemukan penanngalan seperti sebelum masehi (SM) yang biasa dipakai oleh penulis-penulis barat.
Diantara sejarawan muslim yang menulis sejarah dengan pendekatan dinasti yaitu ahmad ibn ya’qub ibn wadhih, atau lebih dikenal senagai Al-ya’qubi. karya sejarahnya terdiri atas dua jilid, pertama tentang sejarah klasik; kedua, khusus berbicara tentang sejarah islam. Sejarawan lain seperti al-mas’udi dalamenulis karya sejaranya terpengaruh oleh al-ya’qubi. Sedangkan sejarawan arab muslim yang lain yang menggunakan metode ini seperti ibn ‘udzari dalam kitabya al-ma’arif, dan ya’qubi yang bukunya diberi judul denga nama sendiri al-ya’qubi.
Perkembangan penulisan sejarah dinasti sejalan dengan perkembangan politik dalam islam.historiografi dinasti sudah dimulai sejak abad ke-3 H, semakin bertambah pesat, setika dunia islam mengalami desintegrasi politik. Dengan munculnya dinasti-dinasti kecil yang saling berkompetisi. Pada waktu itu penulisan sejarah dinasti menjadi alat propaganda politik. Akibatnya, objektifitas berkurang dikarnakan para penulis sejarah berasal dari kalangan istana.
b. Biografi
Sejarah penulisan biografi dimulai dengan menuliskan sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. Kemudian sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in. Dan para perawi hadits. Penulisan sejarah nabi tersebut bisa disebut penulisan sejarah pertama. Karna subyek karya biografi tersebut adalah Nabi SAW, para sahabat dan perowi hatis, makaterlihat dengan jelas bahwa penilisan biografi itu sanagat berhubungan erat dengan kepentingan ilmu hadits. Karna tolok ukur sahih tidaknya suatu hadits dilihat dari hapalan, kejujuran dan ketakwaan perawinya. Maka dari itulah banyak para sejarawan yang temotivasi menulis biografi para perawi hadits.
Dalam perkembangan selanjutnya muncul pula biografi para tokoh-tokoh politik dan para ilmuwan. Akan tetapi penulisan biografi terakhin ini berkembang dengan caranya sendiri. Tahap pertama, biografi tokoh-tokoh atau ulama hanya diselipkan dalam karya-karya sejarah berbentuk sejarah dinasti. Atau sejarah umum yang ditulis secara kronologis. Menurut para pengamat, karya-karya seperti ini merupakn embrio dari tulisan biografi. Baru dalam perkembangan selanjutnya, muncul karya-karya biografi khusus. Dalam biografi ini ada beberapa macam penulisan. Yaitu:
1.      Penulisan sirah 
2.      Al-thabaqat, al-Tarajim, dan al-Mu’jam
a.      Kumpulan biografi sahabat
b.      Thabaqat al-Muhaditsin (biografi perawi hadits)
c.       Biografi para penguasa dan pejabat pemerintah
d.      Biografi para ilmuwan dan pemikir islam.
c. Al-Ansab
sudah umum dikelnal bahwa sejak jaman jahiliyah, orang-orang arab sangat memperhatikan dan memlihara pengetahuan tentang nasab. Srtiap kabilah menghapal silsilahnya dan membangga-banggakannya terhadap kabilah-kabilah yang lain. akan tetapi, karna masih merupakan tradisi lisan, al ansab pra-islam belum sepenuhnya dapat dikatakan sebagai bentuk ekspresi kesadaran sejarah.
Banyak sekali sejarawan muslim pada masa klasik menulis tentang al-ansab. Al- Baladzuri, yang mengarang buku dengan judul ansab al-Asyraf. Sebuah buku yang mengkaji tentang orang-orang terhormat dari kalangan arab. Orang quraisy keturunan Ali bin Abi Thalib (alawi)keturunan sahabat-sahabat pertama setelah islam mempunyai keduukan yang tinggi. Mereka membentuk aristokrasi arab dalam sejarah islam.
Al-ansab ini juga, berkembang sampai ke spanyol, pada waktu itu al-nsab menjadi perhatian besar dalam kajian keilmuan, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai lebih besar dari ilmu-ilmu keagamaan yang lannya. Banyak sejarawan yang mengarang tentang al-ansab ini, seperti ahmad ar-razi, muhammad ibn hazm al-Qurthubi dan ibn abdul al-barr. Faktor yang menyebabkan al-ansab sangat berkembang di spanyol antara lain:
1.  Di spanyol banyak hidup masyarakat dari berbagai etnis, seperti arab, barbar dan keturunan arab (Indo).
2.  Sejarah islam di spanyol tidak dapat dipisahkan dari sejarah bani Umayyah, yang sebagaimana di damaskus yang berorientasi kearaban.
3.  Sejarah politik di spanyol diwarnai oleh persaingan Etnik, baik antara arab utara dan arab selatan, maupun antara arab dan barbar.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penulisan al-ansab ini berkembang dimasa klasik islam. Diantaranya adalah:
1.  Tradisi al-ansab merupakan tradisi yang hidup dan banyak diminati orang arab sejak sebelum islam.
2.  Lembaga diwan (administrasi pemerintahan) yang diciptakan oleh umar ibn khatab menetapkan besarnya hadiah kepada kaum muslimin berdasarkan jauh dekatnya seseorang dengan nabi muhammad. Dan kebijakan ini berlanjut pada masa-masa sesudahnya.
3.  Persaingan politik antara kabilah-kabilah arab di negri-negri ‘baru’.
4.  Munculnya rasa kefanatikan pengikut ali ibn abi thalib.
5. Pada masa bani umayyah karena didorong oleh tujuan-tujuan politik, pengetahuan dan penullisan mengenai al-ansab ini mendapat perhatian dan dukungan dari khalifah.
6.  Munculnya gerakan syu’ubiyah (kebangsaan) dimasa pemerintahan bani abbas. Gerakan syu’ubiyah pada saat itu terdiri dari orang-orang non arab yang semangat mengutuk orang-orang arab, orang arab bangkit untuk menantang untuk menunjukkan kemurnian darah mereka.
 
*Rangkuman dari salah satu bab dalam buku Perkembangan Historiografi Islam, Prof. Dr. Badri Yatim, MA